Ya, suatu kalimat yang baru saja mengispirasiku, setelah sekian lama survival menghadapi kehidupan ini..!

Ketika tubuh sudah habis…., tinggallah mental yang tersisa…!

Disaat tubuh kita sudah tidak mampu lagi menghadapi cobaan-cobaan kehidupan.., apa yang bisa kita pertahankan lagi selain…. yang tersisa adalah kekuatan mental kita…!

Suatu saat, mungkin tubuh bisa sakit.., lumpuh.., tidak berfungsi… atau dikatakan semuanya telah habis……(karena sebelumnya pernah kita miliki).
Lalu.., apa yang tersisa..!
Pada saat itu, hanya mental dan kekuatan iman kitalah yang kita punyai.

Tangan… bisa putus!, telinga… bisa tuli !, mata… bisa buta! tapi sikap mental kita, janganlah pernah ikut putus, tuli atau menjadi buta juga.

Iman dan jiwa kita adalah benteng kita terakhir dari diri kita, dan akan berpisah dengan tubuh disaat sakaratul maut tiba..!
Jika belum tiba saatnya sarakatul maut, meskipun tubuh kita sudah luluh lantah.., habis..! tidak berfungsi lagi, tetaplah diri kita masih ada, karena jiwa kita masih melekat di tubuh kita.

Nah., sekarang ketika tubuh kita masih segar bugar.., bisa dengan santai jalan kesana-kemari.., dan dengan mudah bisa melihat terangnya dunia..!, mengapa justru jiwa kita ini yang loyo..? Serasa jiwa ini berat menghadapi berbagai tekanan hidup!
Kalau kita sbg pelajar.., susahnya belajar, nilai yg selalu jelek, susah dapat teman;
kalau pekerja.. atasan sering marah2, target harus tercapai, margin yg mepet;
sebagi orang tua.. pusing ngurusin anak, takut kenakalan remaja, kelak anak bgmn?;
disaat manula.. tubuh sudah sakit2an, kesepian.., tenaga tidak sekuat dulu…, dst..,dst!

Itu bagian dari perasaan, jiwa dan mental kita yang selalu merasakan.. akan kehidupan ini.

Jadi, bagaimanapun konsisinya, itu hanyalah bagian dari kehidupan, yang tidak akan lari kemana-mana, karena iman dan jiwa kita tetap saja disini, didalam tubuh ini…!

Bahkan…, ketika fisik tubuh kita sudah habis pun…, dan menjelang sakaratul maut .., kita tetaplah harus tegar..!
Tetap tegar menjemput saat-saat dimana semua orang akan mengalaminya…!
Tentunya dengan satu bekal.., yaitu…. lillahirobil alamin..!
Insyaalloh,

hsakti

 Suatu pepatah dari pahlawan pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro, masih cocok untuk kehidupan kita saat ini, yaitu:
ing ngarso… sung tulada,
ing madya.. mangun karso,
tutwuri… andayani
.

ing ngarso… sung tulada, artinya, di depan kita menjadi teladan/contoh. Sudahkan kita bisa menjadi contoh saat kita berada di’depan’..? Ketika didepan menjadi orang tua terhadap anak2 kita, sudahkah kita memberi teladan buat mereka..? Bangun pagi.., kejujuran.., dan disiplin waktu (dlm sholat, dsb).., adalah contoh2 sikap kecil tauladan dalam keluarga.

ing madya.. mangun karso, artinya di tengah ikut serta. Ketika bangsa ini mengalami keterpurukan, baik secara ekonomi maupun dalam jati diri, kita sebagai warga Indonesia ini, apakah termasuk yang mangun karso..! Sudahkah kita memberi kontribusi yang terbaik kepada negara kita kita cintai ini..? atau.. malah hanya bisa mencemooh, menyalahkan yang lain dan atau bahkan ikut termasuk yang memperparah kondisi bangsa ini dg ikut korupsi, malas2an bekerja dan sikap boros..!

tutwuri… andayani, dibelakang memberi dorongan/dukungan. Disaat kita di posisi dibelakang, memberi dorongan kepada yang didepan untuk maju. Sebagai tindakan nyata, sudahkan kita mendorong generasi muda, adik2 kita, anak2 kita, untuk berjuang lebih cepat, maju kedepan, dengan memberikan pengalaman dari kegagalan kita, sehingga mereka tidak menemui kesalahah yang kedua kalinya? Bukannya malah menutup-nutupi kesalahan, melakukan kebohongan2 dan berpura-pura, agar kita seolah2 baik dilihat orang lain.

Nah.., ternyata.., kata-kata yang sudah muncul sejak jaman berdirinya Taman Siswa- sekitar tahun 1927 yang lalu, sekarang 60 tahun lebih.., belum mampu untuk kita amalkan dengan sepenuhnya. Kata2 itu tetap bermagna…, bagi siapa saja yang mau mempelajarinya..!

hsakti

Posted by: hsakti | October 14, 2007

Don’t linger over smal problem

Don’t linger over smal problem…!
Jangan terpaku pada masalah-masalah yang sepele..!

Kadang kita picik melihat sesuatu masalah, sehingga kita lupa terhadap esensi dan lupa akan permasalah yang lebih besar.

Sebagai contoh, penetapan Idul Fitri, awal 1 Syawal , di Indonesia setiap tahun selalu menjadi kontroversi dan masalah, temasuk dalam penetapan Idul Fitri 1428H ini.

Saya menyadari bahwa setiap kelompok mempunyai argumentasi masing2 dalam menetapkan 1 Syawal, khususnya kelompok NU dan Muhammadiyah yang dianut oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia.
Namun yang tidak habis pikir.., kenapa kesannya selalu ingin mencari-cari pembedaan..?

Bukankah kita tahu, bahwa di dunia ini selalu ada perbedaan.., sebagai misal, angka digital itu kalo tidak nol ya satu, dalam satu hari kalo tidak siang ya.. malam, angka setelah 29 ya.. 30, jika angka 29 ditambah satu…hasilnya ya 30..!
Semuanya sudah jelas…, yang jadi masalah kenapa kita tidak bisa mengambil ‘iktibar dari semuanya ini.

Kalo hanya membeda-bedakan sesuatu, itu sih gampang, karena pada hakikatnya dunia ini tidak ada yang sama. Justru tugas manusialah yang mengaturnya, sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik. Tujuan besar dari mengatur itu adalah terciptanya ukhuwah (=persaudaraan) diantara semua umat manusia.

Jangan terpaku pada masalah-masalah yang sepele..!
Problem kita bukan mencari kapan hari yang paling tepat dalam menentukan jatuhnya 1 Syawal ..? Itu masalah kecil…, yang seharusnya sangat mudah bisa diselesaikan dengan cara ilmu dan musyawarah.
Ada masalah yang lebih besar lagi, dan itu esensi dari semuanya..!
Problem kita, umat manusia, yang masih besar adalah bagaimana menyatukan ukhuwah islamiah baik diantara umat islam sendiri dan atau dengan seluruh umat manusia?
Bagaimana caranya agar seluruh umat manusia menjadi bagian satu saudara dengan yang lainnya, bersahabat, saling membantu, tolong-menolong dan tidak ada permusuhan? Itu esensi dari kehidupan manusia..!

Makanya, di budaya kita untuk mencapai hal tsb, diadakan ungkapan silahturahmi, berjabatan tanggan, saling mengunjungi, saling maaf memaafkan, untuk menjadi bagian dari upaya bahwa sesungguhnya kita semua bersaudara.

Jadi.., kenapa kita masih terpaku dengan masalah-masalah kecil, seperti dalam penentuan 1 Syawal ini?
Perbedaan merayaka hari 1 Syawal, jelas memunculkan perbedaan diantara kita sendiri. Dengan perayaan yang berbeda, secara tidak sadar, kita sudah mengambil jarak dengan satu saudara kita yang lain. Itutah essensi yang kita harapkan dalam merayakan Idul Fitri..?

Untuk itu, marilah kita berhenti menciptakan perbedaan-perbedaan. Selagi kita bisa melakukan persamaan, mengapa tidak kita lakukan..?
Bagi pengambil keputusan (Ulama&Umaro’), ambil keputusan yang tepat, tentukan kapan jatuhnya hari 1 Syawal, dan setelah itu, marilah kita semua mengikutinya.

Insyaalloh, baldatun toyyibatun wa rabbun ghaffur, dapat kita raih.

hsakti

Categories